Selasa, 23 Mei 2017

Cerpen: Cinta Pertama yang Tak Terlihat




CINTA PERTAMA YANG TAK TERLIHAT
 Karya: Febriyani
 
Siang itu, aku dan teman-temanku bermain dibawah pohon yang rindang. Daun-daun bergoyang di tiup angin, berjatuhan kesana kemari. Udara yang dingin membuat mereka semakin bersemangat untuk melakukan permainan ini. Gobak sodor atau galaksilah kebanyakan orang menyebut permainan yang sedang kami lakukan. Sesaat setelah aku bermain, seperti kebanyakan orang setelah bermain pasti semua orang akan merasa letih. Permainan itu begitu banyak menguras tenagaku, maka dari itu aku pun segera membeli ES yang dijajakan dipinggir jalan. Aku tahu minuman atau ES ini belum dipastikan kesehatannya tetapi setelah aku dewasa nanti aku baru tahu bahwa jajanan jalanan itu tak semuanya baik.
Di perjalanan pulang aku pun asyik bercanda tawa bersama teman-temanku. Tiba-tiba, di hari yang begitu cerah dan berangin itu aku pun bertemu dengan beberapa adik kelasku. Lalu sebagian mereka malah menggodaku dan mengejekku dengan sebutan “buto ijo.
Aku memang ditakdirkan hidup dengan badan yang sedikit besar dan kulit yang cukup gelap. Maka dari itu, semua orang selalu mengejekku akibat kekurangan itu, bukan. Itu bukan kekurangan melainkan anugerah yang tak sempurna. Walaupun begitu aku pun tetap bersyukur kepada Sang Pencipta Allah SWT, karena-Nya aku dapat lahir dan melihat betapa indahnya dunia yang di ciptakan-Nya.
Begitu kesalnya mendengar ejekkan itu, walaupun aku tahu memang tak ada salahnya jika mereka mengatakan hal seperti itu. Tetapi wajar saja, aku tak suka diejek seperti itu karena Allah SWT telah menciptakanku dengan sebaik-baiknya. Dan manusia adalah makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Semakin terngiang-ngiang ejekkan itu, semakin panas telingaku ini. Tanpa sadar, aku pun membuang ES yang aku beli tadi dan mengambil sisa ES batu yang ada didalamnya. Dan tak kusangka juga, aku telah melemparkan ES batu tersebut ke arah mereka dan mengenai mata salah satu dari mereka.
Aku pun tak bisa berkata apa-apa dan terkesima dengan apa yang telah kulakukan tadi. Sungguh api dan hasutan syetan yang menggelapkan mata. Aku pun langsung menyesal dan segera meminta maaf. Ternyata tak kuduga. Orang itu, orang yang telah mengenai senjataku berubah menjadi halilintar yang menyambar. Mukanya memerah layaknya seorang tentara yang sedang mungkar dengan lawannya saat ia melihat pemimpinnya terjatuh lemah di tanah dengan selumuran darah di sekujur tubuhnya. Tangannya yang geram, kuat seperti prajurit yang sedang memegang pedangnya dengan penuh keyakinan. Giginya menggerutu layaknya hewan buas yang sedang haus akan mangsanya.
Kejadian itu, membuatku semakin takut. Semakin gelisah dan tak tentu arah. Tangannya bersiap untuk naik dan memegang ES batu yang tak sengaja aku lemparkan kepadanya. Dengan segera aku pun berlari sekuat tenaga, orang itu dan teman-temanya pun segera mengejarku. Itu membuatku semakin ketakutan. Seluruh keringat telah membasahi pipi, leher dan punggungku dan tak tahu lagi harus berlari ke arah mana. Aku sudah berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Tetapi tak ada satu pun tempat yang cocok untuk persembunyian ini. Akhirnya aku pun mendapat sesuatu yang bisa dijadikan tempat persembunyian, sebuah lorong kecil dan aku segera berlari ke arah lorong itu sampai memastikan tak ada orang lagi yang mengejarku.
Setelah semuanya sepi dan tak ada satu pun orang yang mengejarku. Aku pun segera keluar dari lorong kecil, sempit dan bau ini. dan setelah keluar akupun baru menyadari lorong ini adalah bekas kandang sapi. “ah.. ini sangat memalukan. Aku benci siang ini, aku benci hari ini,” gumamku. “tetapi maafkan aku Rasya, aku melakukannya dengan tak sengaja dan aku berlari bukan karena aku bersalah tetapi aku takut melihat panas api membara yang ada ditubuhmu itu,” kegelisahanku.
Keesokkan harinya, aku pun berangkat sekolah dengan sepucuk surat kecil yang ada di tanganku. Surat ini, surat yang telah ku persiapkan untuk permintaan maafku kepada Rasya. Sesampainya disekolah aku pun menitipkan surat ini kepada temannya, salah satu dari orang yang mengejarku kemarin. Noval namanya, awalnya aku juga merasa takut kepadanya tetapi dengan memberanikan diri aku berhasil menghadapi ketakutan itu. 2 hari setelah surat itu diberikan, noval pun datang dengan sepucuk surat yang aku anggap merupakan balasan dari Rasya.
Anehnya, noval memintaku untuk tidak membukanya sekarang sebelum Rasya dan Noval adik kelasku itu pulang kerumahnya. Aku pun setuju dengan hal itu karena aku merasa itu tak penting. Aku tak bersalah, aku pun melakukannya dengan tak sengaja. Dan yang harus mereka ketahui, aku melakukannya tanpa sepengetahuan otak kecilku.
Di rumah aku pun membuka sepatuku, menghempaskan tasku di tempat tidurku dan segera berbaring ditempat tidurku. Tak lama kemudian, ibuku pun masuk ke kamarku dengan segera berkata “Ya Allah, nak mengapa berantakan seperti ini? kamu perempuan atau laki-laki? Biasakan untuk menggantung bajumu dan menaruh tasmu di tempat yang seharusnya. Walaupun kamu masih kecil tapi biasakan untuk melakukan hal sekecil itu. Sesungguhnya belajar itu harus dimulai dari yang paling terendah.
Yaa,.. seperti biasanya ibuku selalu meluangkan waktu untuk berkata-kata sebentar untukku, walaupun ia berbica dengan lembut tetapi aku bosan. Aku tahu niatnya baik untuk kebaikanku juga tapi aku tak suka bila setiap harinya selalu mendengarkan hal itu terus menerus. Mungkin telingaku ini sudah kebal mendengar pembicaraan itu.
Setelah aku membereskan semuanya yang Ibuku minta, aku pun segera berbaring kembali ke tempat tidurku yang begitu lembut dan empuk. Baru saja aku berbaring, aku pun terkejut. Hampir saja aku lupa dengan surat balasan yang telah diberikan Rasya melalui Noval untukku. Sedikit demi sedikit aku membuka tasku dan bersusah payah mencarinya ke selip-selip buku yang ada di dalam tasku sampai ke bagian paling bawah tasku. Aku pun segera membuka surat itu. Tiba-tiba… aku tak menyangka dan terkesima dengan isi surat bodoh ini. inilah isi suratnya:

Dear: kakak kelas
Aku sudah memaafkanmu kak, aku tak menganggapnya serius. Tetapi perlu kau tahu, aku sudah memendam perasaan ini begitu lama. Butuh memakan waktu untuk menyimpan hal sepenting ini. Hai, berondong J aku sudah lama menyukaimu. Mungkin ini adalah sebuah penghinaan bagi seorang adik kelas yang menyatakan cintanya kepada kakak kelasnya. Tapi aku tak peduli itu yang terpenting aku hanya bisa berusaha jujur dengan perasaanku ini agar aku bisa merasa lega dan tak memikirkan hal ini kembali. Dan membuktikan bahwa aku adalah lelaki yang tak seperti apa yang kamu pikirkan kak.

“Oh My God. Tidak, mereka salah. ini tidak seperti apa yang aku pikirkan. apakah mereka sudah gila? Apakah dia tak sadar saat menuliskan hal sebodoh ini? dia menyebutku berondong? ini tak mungkin, pasti ini hanya mimpi konyol,” seruanku sambil menampar pipiku sendiri. “ah,… sakit. Tidak, ini tak boleh terjadi. Seorang adik kelas yang sering mengejekku, menyukaiku? Itu tidak mungkin. Tidak mungkinnnnn.
Tanpa berfikir panjang dengan Illfeel yang melanda perasaan ini aku pun segera merobek dan membuang surat bodoh ini. Surat yang aneh dan tak penting untuk di simpan, dan juga tak seharusnya aku membaca hal bodoh ini.
Aku tak yakin dengan surat ini, aku tak yakin siapa yang telah menulisnya. Rasyakah? Atau mungkin Noval? Oh, ini sangat menyesatkan. Aku tak bisa berfikir jernih, yang pastinya dengan surat itu aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Dan menyesal telah melemparnya dengan ES batu itu. “Apakah dia sudah gila? Apa ada yang salah dengan otaknya karena lemparan kemarin? Tidak, aku melemparnya ke bagian matanya dan tak ada hubungannya dengan otak. Atau mungkin lemparan itu mengenai saraf auditorinya, sehingga merangsang ke otak? Oh, tidak.. tidak itu sangat berlebihan!” gumamku.
Setelah kejadian itu, aku berusaha menjauh. Menjauh dari pandangan orang-orang bodoh itu. Aku merasa diriku sudah gila, sudah tak benar lagi letak otak-otak yang ada dikepalaku ini. Tetapi kalian tahu, semakin menjauh aku semakin penasaran siapa yang telah berani menulis hal itu. Dengan kejadian itu, dada ku semakin sesak saat melihat mereka berdua. Siapa di salah satu mereka yang telah membuatnya? Aku tak tahu dan berharap untuk tak mengetahuinya.
4 tahun kemudian…
            Kini aku telah berusia 20 tahun, usia yang telah berjalan begitu saja. Di usia yang ke 20 tahun ini, masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku masih saja memikirkan tentang siapa penulis surat bodoh yang pernah diterima dulu. Tetapi aku tahu, itu tak mungkin Rasya dan tak mungkin juga Noval. Rasya itu sosok pemuda yang pendiam dan tak pernah memikirkan hal tentang cinta bodoh seperti itu apalagi Noval. Noval hanyanyalah sosok pemuda yang tak pernah tahu akan dirinya, yang ia ketahui itu hanyalah membeci orang-orang yang telah menyakiti perasaan Ibundanya dan tak mungkin dia memikirkan hal yang sama dengan isi surat tersebut.
            Semakin penasaran tentang surat misterius itu, aku tak tahu mengapa setiap kali aku mengingat akan surat itu. Aku pun merasakan rindu dihatiku terhadap sosok diantara kedua laki-laki itu, Rasya dan Noval tetapi akupun tak tahu yang mana orang yang aku rindukan. Semakin menginjak dewasa akupun semakin memahami tentang sosialisasi seseorang. Dan aku baru tahu, bahwa kerinduanku ini adalah cinta yang tak diketahui siapa pemiliknya.
Aku tak tahu siapa yang aku cintai, siapa salah satu diantara Rasya dan Noval. “apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah diantara keduanya adalah cinta pertamaku? Atau mungkin keduanya?” kalimat ini selalu aku selipkan di pikiranku. Dan sampai sekarang ini, aku hanya mengganggap semua itu kenangan, kenangan yang tak terlupakan dan tak tahu kebenarannya tetapi aku yakin salah satu dari merekalah cinta pertamaku yang tak terlihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil RED VELVET

RED VELVET “K-GIRLGRUP VISUAL POINT” 1.       Asal Usul Red Velvet terdiri dari 5 anggota didalamnya, dan masih masing mempunyai...