CINTA PERTAMA
YANG TAK TERLIHAT
Karya: Febriyani
Siang itu, aku dan
teman-temanku bermain dibawah pohon
yang rindang. Daun-daun bergoyang di tiup angin, berjatuhan kesana kemari.
Udara yang dingin membuat mereka
semakin bersemangat untuk melakukan permainan ini. Gobak sodor atau galaksilah
kebanyakan orang menyebut permainan yang sedang kami lakukan. Sesaat setelah
aku bermain, seperti kebanyakan orang setelah bermain pasti semua orang akan
merasa letih. Permainan itu begitu banyak menguras tenagaku, maka dari itu aku pun
segera membeli ES yang dijajakan dipinggir jalan. Aku tahu minuman atau ES ini
belum dipastikan kesehatannya tetapi setelah aku dewasa nanti aku baru tahu
bahwa jajanan jalanan itu tak semuanya baik.
Di perjalanan pulang
aku pun asyik bercanda tawa bersama teman-temanku. Tiba-tiba, di hari yang
begitu cerah dan berangin itu aku pun bertemu dengan beberapa adik kelasku.
Lalu sebagian mereka malah menggodaku dan mengejekku dengan sebutan “buto ijo.”
Aku memang ditakdirkan
hidup dengan badan yang sedikit besar dan kulit yang cukup gelap. Maka dari itu,
semua orang selalu mengejekku akibat kekurangan itu, bukan. Itu bukan
kekurangan melainkan anugerah yang tak sempurna. Walaupun begitu aku pun tetap
bersyukur kepada Sang Pencipta Allah SWT, karena-Nya aku dapat lahir dan
melihat betapa indahnya dunia yang di ciptakan-Nya.
Begitu kesalnya
mendengar ejekkan itu, walaupun aku tahu memang tak ada salahnya jika mereka
mengatakan hal seperti itu. Tetapi wajar saja, aku tak suka diejek seperti itu
karena Allah SWT telah menciptakanku dengan sebaik-baiknya. Dan manusia adalah
makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Semakin terngiang-ngiang ejekkan itu, semakin panas telingaku ini. Tanpa sadar,
aku pun membuang ES yang aku beli tadi dan mengambil sisa ES batu yang ada didalamnya.
Dan tak kusangka juga, aku telah melemparkan ES batu tersebut ke arah mereka
dan mengenai mata salah satu dari mereka.
Aku pun tak bisa
berkata apa-apa dan terkesima dengan apa yang telah kulakukan tadi. Sungguh api
dan hasutan syetan yang menggelapkan mata. Aku pun langsung menyesal dan segera
meminta maaf. Ternyata tak kuduga. Orang itu, orang yang telah mengenai
senjataku berubah menjadi halilintar yang menyambar. Mukanya memerah layaknya
seorang tentara yang sedang mungkar dengan lawannya saat ia melihat pemimpinnya
terjatuh lemah di tanah dengan selumuran darah di sekujur tubuhnya. Tangannya
yang geram, kuat seperti prajurit yang sedang memegang pedangnya dengan penuh
keyakinan. Giginya menggerutu layaknya hewan buas yang sedang haus akan
mangsanya.
Kejadian itu, membuatku
semakin takut. Semakin gelisah dan tak tentu arah. Tangannya bersiap untuk naik
dan memegang ES batu yang tak sengaja aku lemparkan kepadanya. Dengan segera
aku pun berlari sekuat tenaga, orang itu dan teman-temanya pun segera
mengejarku. Itu membuatku semakin ketakutan. Seluruh keringat telah membasahi
pipi, leher dan punggungku dan tak tahu lagi harus berlari ke arah mana. Aku
sudah berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Tetapi tak ada satu pun tempat
yang cocok untuk persembunyian ini. Akhirnya aku pun mendapat sesuatu yang bisa
dijadikan tempat persembunyian, sebuah lorong kecil dan aku segera berlari ke
arah lorong itu sampai memastikan tak ada orang lagi yang mengejarku.
Setelah semuanya sepi
dan tak ada satu pun orang yang mengejarku. Aku pun segera keluar dari lorong
kecil, sempit dan bau ini. dan setelah keluar akupun baru menyadari lorong ini
adalah bekas kandang sapi. “ah.. ini sangat memalukan. Aku benci siang ini, aku
benci hari ini,” gumamku. “tetapi
maafkan aku Rasya, aku melakukannya dengan tak sengaja dan aku berlari bukan
karena aku bersalah tetapi aku takut melihat panas api membara yang ada
ditubuhmu itu,” kegelisahanku.
Keesokkan harinya, aku
pun berangkat sekolah dengan sepucuk surat kecil yang ada di tanganku. Surat
ini, surat yang telah ku persiapkan untuk permintaan maafku kepada Rasya.
Sesampainya disekolah aku pun menitipkan surat ini kepada temannya, salah satu
dari orang yang mengejarku kemarin. Noval namanya, awalnya aku juga merasa
takut kepadanya tetapi dengan memberanikan diri aku berhasil menghadapi
ketakutan itu. 2 hari setelah surat itu diberikan, noval pun datang dengan
sepucuk surat yang aku anggap merupakan balasan dari Rasya.
Anehnya, noval
memintaku untuk tidak membukanya sekarang sebelum Rasya dan Noval adik kelasku
itu pulang kerumahnya. Aku pun setuju dengan hal itu karena aku merasa itu tak
penting. Aku tak bersalah, aku pun melakukannya dengan tak sengaja. Dan yang
harus mereka ketahui, aku melakukannya tanpa sepengetahuan otak kecilku.
Di rumah aku pun
membuka sepatuku, menghempaskan tasku di tempat tidurku dan segera berbaring
ditempat tidurku. Tak lama kemudian, ibuku pun masuk ke kamarku dengan segera
berkata “Ya Allah, nak mengapa berantakan seperti ini? kamu perempuan atau
laki-laki? Biasakan untuk menggantung bajumu dan menaruh tasmu di tempat yang
seharusnya. Walaupun kamu masih kecil tapi biasakan untuk melakukan hal sekecil
itu. Sesungguhnya belajar itu harus dimulai dari yang paling terendah.”
Yaa,.. seperti biasanya
ibuku selalu meluangkan waktu untuk berkata-kata sebentar untukku, walaupun ia
berbica dengan lembut tetapi aku bosan. Aku tahu niatnya baik untuk kebaikanku
juga tapi aku tak suka bila setiap harinya selalu mendengarkan hal itu terus
menerus. Mungkin telingaku ini sudah kebal mendengar pembicaraan itu.
Setelah aku membereskan
semuanya yang Ibuku minta, aku pun segera berbaring kembali ke tempat tidurku
yang begitu lembut dan empuk. Baru saja aku berbaring, aku pun terkejut. Hampir
saja aku lupa dengan surat balasan yang telah diberikan Rasya melalui Noval
untukku. Sedikit demi sedikit aku membuka tasku dan bersusah payah mencarinya
ke selip-selip buku yang ada di dalam tasku sampai ke bagian paling bawah
tasku. Aku pun segera membuka surat itu. Tiba-tiba… aku tak menyangka dan
terkesima dengan isi surat bodoh ini. inilah isi suratnya:
Dear:
kakak kelas
Aku
sudah memaafkanmu kak, aku tak menganggapnya serius. Tetapi perlu kau tahu, aku
sudah memendam perasaan ini begitu lama. Butuh memakan waktu untuk menyimpan
hal sepenting ini. Hai, berondong J aku sudah lama
menyukaimu. Mungkin ini adalah sebuah penghinaan bagi seorang adik kelas yang
menyatakan cintanya kepada kakak kelasnya. Tapi aku tak peduli itu yang
terpenting aku hanya bisa berusaha jujur dengan perasaanku ini agar aku bisa
merasa lega dan tak memikirkan hal ini kembali. Dan membuktikan bahwa aku
adalah lelaki yang tak seperti apa yang kamu pikirkan kak.
“Oh My God. Tidak,
mereka salah. ini tidak seperti apa yang aku
pikirkan. apakah mereka sudah gila? Apakah dia tak sadar saat menuliskan hal
sebodoh ini? dia menyebutku berondong? ini tak mungkin, pasti ini hanya mimpi
konyol,” seruanku sambil
menampar pipiku sendiri. “ah,… sakit. Tidak, ini tak boleh terjadi. Seorang
adik kelas yang sering mengejekku, menyukaiku? Itu tidak mungkin. Tidak
mungkinnnnn.”
Tanpa berfikir panjang
dengan Illfeel yang melanda perasaan ini aku pun segera merobek dan membuang
surat bodoh ini. Surat yang aneh dan tak penting untuk di simpan, dan juga tak
seharusnya aku membaca hal bodoh ini.
Aku tak yakin dengan
surat ini, aku tak yakin siapa yang telah menulisnya. Rasyakah? Atau mungkin
Noval? Oh, ini sangat
menyesatkan. Aku tak bisa berfikir jernih, yang pastinya dengan surat itu aku
merasa aneh dengan diriku sendiri. Dan menyesal telah melemparnya dengan ES
batu itu. “Apakah dia sudah gila? Apa ada yang salah dengan otaknya karena
lemparan kemarin? Tidak, aku melemparnya ke bagian matanya dan tak ada hubungannya
dengan otak. Atau mungkin lemparan itu mengenai saraf auditorinya, sehingga
merangsang ke otak? Oh, tidak.. tidak itu sangat berlebihan!” gumamku.
Setelah kejadian itu,
aku berusaha menjauh. Menjauh dari pandangan orang-orang bodoh itu. Aku merasa
diriku sudah gila, sudah tak benar lagi letak otak-otak yang ada dikepalaku ini. Tetapi kalian tahu,
semakin menjauh aku semakin penasaran siapa yang telah berani menulis hal itu.
Dengan kejadian itu, dada ku semakin sesak saat melihat mereka berdua. Siapa di salah
satu mereka yang telah membuatnya? Aku tak tahu dan berharap untuk tak
mengetahuinya.
4 tahun kemudian…
Kini
aku telah berusia 20 tahun, usia yang telah berjalan begitu saja. Di usia yang
ke 20 tahun ini, masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku masih saja
memikirkan tentang siapa penulis surat bodoh yang pernah diterima dulu. Tetapi aku
tahu, itu tak mungkin Rasya dan tak mungkin juga Noval. Rasya itu sosok pemuda
yang pendiam dan tak pernah memikirkan hal tentang cinta bodoh seperti itu
apalagi Noval. Noval hanyanyalah sosok pemuda yang tak pernah tahu akan
dirinya, yang ia ketahui itu hanyalah membeci orang-orang yang telah menyakiti
perasaan Ibundanya dan tak mungkin dia memikirkan hal yang sama dengan isi
surat tersebut.
Semakin
penasaran tentang surat misterius itu, aku tak tahu mengapa setiap kali aku
mengingat akan surat itu.
Aku pun merasakan rindu dihatiku terhadap sosok diantara kedua laki-laki itu,
Rasya dan Noval tetapi akupun tak tahu yang mana orang yang aku rindukan.
Semakin menginjak dewasa akupun semakin memahami tentang sosialisasi seseorang.
Dan aku baru tahu, bahwa kerinduanku ini adalah cinta yang tak diketahui siapa
pemiliknya.
Aku tak tahu siapa yang
aku cintai, siapa salah satu diantara Rasya dan Noval. “apakah ini yang
dinamakan cinta? Apakah diantara keduanya adalah cinta pertamaku? Atau mungkin
keduanya?” kalimat ini selalu aku selipkan di pikiranku. Dan sampai sekarang
ini, aku hanya mengganggap semua itu kenangan, kenangan yang tak terlupakan dan
tak tahu kebenarannya tetapi aku yakin salah satu dari merekalah cinta
pertamaku yang tak terlihat.