Selasa, 23 Mei 2017

Cerpen: Berwajah Seribu


Berwajah Seribu

Karya: Febriyani


Lami anak yang berbola mata hitam itu selalu terlihat bahagia setiap harinya. Ia memiliki kepribadian ganda yang membuat semua orang dari kalangan apapun sangat nyaman bila berteman dengannya. Ia polos tetapi bila ia marah siap-siap saja dunia ini terpontang-panting dengan kekuatan puting beliungnya beserta omongannya yang begitu mengerikan. Ini bukan karena bicaranya yang keras melainkan bahasanya, Can you stop your mouth? Shut up! How dare you!” Itulah beberapa kalimat yang sering ia ucapkan sambil memukul tangannya ke salah satu benda yang ada di sekitarnya. Kalimat itu mungkin sudah tak asing lagi, apalagi di zaman yang serba modern ini. Tetapi siapa yang dapat mengira kalau hanya ini yang terdengar, Can.. your mouth? ..up! How dare you!” seperti penutur aslinya begitu cepat, ketat dan menggelegar.
Pagi itu, di bawah pohon yang rindang gadis manis itu duduk begitu ceria memandangi bukunya beserta alunan lagu dari negeri ginseng yang selalu menemaninya. Apalagi kalau bukan musik korea yang sedang booming dikalangan remaja Indonesia itu. Lami salah satunya, ia sangat menyukai musik korea khusunya SNSD. Siapa yang tak mengenal SNSD? Hampir semua orang di negeri ini mengenalnya, jika mereka tak mengenal mungkin karena mereka tak suka atau mungkin memang beberapa penggemarnya saja yang sengaja melebih-lebihkan.
Angin berhembus kencang, dedaunan pun berjatuhan. Udara yang begitu dingin membekukan segala ruangan. Hingga halilintar pun menyambar. Awan hitam mulai berdatangan. Rintik-rintik hujan pun mulai membasahi negeri ini bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata Lami hingga membasahi buku yang sedang di genggamnya. Entah mengapa gadis seceria itu terlihat murung dalam sekejap. Apa yang sedang terjadi? Apakah ada yang salah dengan hari itu?
“Maaf saudari Lami yang terhormat, tolong jangan mengganggu kehidupan saya. Sepertinya anda senang sekali melihat saya tidak berhubungan dengan orang itu lagi. Saudara sialan!” kutipan kicauan seseorang di sebuah social media. Kalimat itu yang tertera dibukunya sekarang. Siapakah orang itu? Seberapa pentingnya orang itu hingga membuat gadis manis itu begitu mudah menodai senyuman manisnya dengan sebuah tetesan air mata? Orang itu adalah sepupunya.
Sebuah kesalah pahaman sedang terjadi pada hari ini dan seterusnya. Tiada penjelasan apapun yang bisa diutarakan. Ini semua hanyalah sebuah kisah kesalahpahaman. “Apa salahku tuhan sehingga semua orang begitu? Aku sudah berbuat baik tetapi semuanya terasa sia-sia. Aku berbuat jahat malah semuanya jadi berantakan. Mengapa ini terjadi? Salahkah aku membela sahabatku yang benar?” ia bergumam dalam tangisannya.
Lami memang termasuk tipe anak yang mencintai sebuah persahabatan. Ia akan selalu membela, menjaga dan menyayangi jika sahabatnya itu memang melakukan hal yang benar walaupun nyawa taruhannya. Fani adalah salah satu teman yang sangat ia cintai. Dan hal ini pula lah yang membuat ia harus berselisih paham dengan sepupunya itu.
Fani pun menenangkan Lami. Ia hari ini begitu banyak mengeluarkan celotehannya yang membuat Lami terlihat senang. Tapi tak sepantasnya ia memperlakukan kamu seperti budak, jangan mentang-mentang kamu mencintainya seenaknya saja ia membuat kamu selalu mengalah,ucap Lami. Fani pun mulai meneteskan air matanya dan segera memeluk Lami dengan erat. Lami berusaha untuk tegar, “Ini semua pasti gara-gara nenek lampir yang sok kecakepan itu. Kamu memangnya tak letih apa diserang terus menerus dengan bocah ingusan itu?”
Beberapa teman dekat Lami pun banyak yang mengirimkan pesan di akun social media-nya, Pami menulis “Sudahlah, toh ia juga akan segera sadar.
Yang sabar, anggap saja semua ini tak ada,
“Jangan begitu dia kan saudara kamu, Lami. kamu harus berpikiran positif,
Beberapa orang ikut berkomentar.
Sebulan pun telah berlalu, kini saatnya umat islam merayakan hari kemenangannya yaitu merayakan Hari Raya Idul Fitri. Semuanya saling bermaaf-maafan. Di rumah yang cukup besar, seluruh keluarga Lami beserta sanak saudaranya berkumpul berbagi cerita, tetapi Lami malah asyik dengan PSP nya. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang tak karuan.
Ketika semuanya telah bersalaman dengannya, tiba-tiba saja orang yang memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya dengan seragam kokoh yang masih baru menghampirinya dan memberikan tangannya untuk bersalaman sambil berkata,Maaf lahir dan batin, Lami.
Siapa orang itu? Lami pun tidak yakin dengan hal ini! “Dipo? Dipokah ini? Impossible. Setelah ia menjelek-jelekkan ku di social media lalu ia meminta maaf begitu saja? Hebat! Lalu apa yang harus aku lakukan?” gumamnya dalam hati. Dengan berat hati Lami pun membalas salamannya itu.
Hari pun terus berlanjut, Lami selalu terlihat murung ketika bertemu dengan sepupunya itu. Walaupun Dipo selalu memberikan sapaan kepada Lami tetapi tetap saja ia malas untuk membalas sapaan itu terkadang ia hanya menjawab dengan senyuman atau menjawab “Iya,” dengan nada lirih. Itulah arti dari sebuah kepercayaan yang telah hilang. Seketika lenyap dan tak ada satupun yang dapat mengembalikannya.
Keesokan harinya ketika Lami berangkat sekolah, ia bertemu dengan sepupunya itu dan Lami pun sudah bersiap untuk menyapanya karena kali ini Lami pun sadar bahwa tak ada gunanya memendam amarah. Tetapi semuanya tak sesuai harapan. Ia pun mengurungkan niat untuk menyapa Dipo. Ketika Dipo melihat Lami, tiba-tiba saja Dipo sengaja untuk berbalik arah.
Apa maksudnya? Apa mungkin ia berpikir bahwa aku akan menumpang? Sungguh kelewatan!” gumam Lami. Raut wajah Lami berubah seketika dan memancarkan senyum lirih yang begitu menakutkan. “Manusia sombong, tak tahu aturan. Mengapa dia bisa menjadi saudaraku?” gumam Lami sambil menggertakkan giginya serta menyiapkan kepalan pada tangannya.
Beberapa hari kemudian, “OMG! Everybody help me, please. Ayo dong leraikan mereka,” ucap guru Bahasa Inggris yang paling populer di sekolahnya itu. Lami pun segera keluar melihat keributan itu, dan terdiam ketika melihat saudaranya itu sedang berkelahi dengan seseorang yang masih temannya juga, Alvi namanya. Seketika melihat itu Lami pun tak tahu harus berbuat apa. Walaupun ia sedang dalam suasana membenci, akan tetapi perasaan khawatir terus membayang di pikirannya. Apalagi setelah mendengar percakapan beberapa orang yang membicarakan sepupunya itu saat perjalanan pulang kerumah. Ia mendengar bahwa sepupunya akan berkelahi kembali di suatu tempat. Perasaan takut, gelisah menjelma di pikirannya sekarang.
Siang pun telah berganti malam, bintang-bintang di langit bersinar terang. Waktunya istirahat bagi Lami. Keesokkan harinya, di sekolah beberapa orang berkumpul di depan kantor ruang guru. Salah satu dari mereka merupakan teman dari Dipo. Lami pun merasa yakin ada sesuatu yang tidak beres. Dan Lami pun mendengar salah satu pembicaraan dari orang-orang itu, Kok semuanya jadi tahu masalah kemarin?”
Satupun tak ada yang menjawab hingga akhirnya seseorang berbadan tegap, berkulit cokelat berkata, “Ngadu kali! Mungkin ngadu.
Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, Apa maksudnya? Bukankah orang itu sahabat dekatnya Dipo?
Lami bersama teman-temannya pun segera pergi ke rumah Dipo. Sesampainya dirumah Dipo, itu tak seperti apa yang dipikirkan. Dipo baik-baik saja, hanya ada luka-luka dibagian telapak kakinya dan sedikit garis luka di sikunya serta terkadang ia sering menjerit kesakitan sambil memegang perutnya. Ingin sekali rasanya Lami memberi tahu tentang hal yang dibicarakan sahabat dekatnya Dipo itu, sebut saja Putra namanya. Tetapi ia mengurungkan niatnya itu karena takut menimbulkan kesan adu domba.
Keesokan harinya, “Ra, kita lihat Dipo yuk. Dia kan lagi sakit setelah pertengkaran hebat itu,” sahut Odi. “Males ah,” kata putra. “Kok gitu? Kan teman kita,” bales orang yang lainnya. Kan temen lu! Bukan temen gue kan? Ngapain coba dilihat nanti kalau meninggal juga bakalan ditengokin juga kok. Yekan?” tegas Putra.
“Apa yang ia katakan? Ia berdoa agar sepupuku itu mati? Yang benar saja!” gumam Lami dalam hati. Lami pun memandangi orang-orang yang ada disekitarnya. Beberapa temannya itu ada yang menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengar ucapan tak pantas itu. Setelah mendengarkan itu Lami pun langsung berpura-pura tidur dan tak mendengarnya.
Beberapa menit kemudian, mukanya Lami pun tiba-tiba memerah, ia mengepalkan tangannya. Saat itu, ia terlihat seperti lucifer. Sangat menakutkan. Tak lama kemudian, tepat di depan orang itu, Putra, Lami segera melayangkan tangannya. Tetapi seseorang meng-hentikannya. Orang itu tak lain tak bukan adalah Dipo, sepupunya Lami.
“Jika kamu melakukan itu, tak ada bedanya kau dengannya,” kata Dipo dengan tegas. Lami pun makin memanas saat melihat Dipo. Walaupun ia bertindak sejauh itu karenanya tapi kemarahan Lami pada dipo tak tertahankan. “Jangan sok baik! Kau penipu!” kata Lami. Akhirnya Lami pun malah mengarahkan layangan tangannya itu ke arah Dipo. “Ini untuk wajah seribumu itu!”
Dipo benar-benar terlihat bodoh saat diperlakukan seperti itu oleh Lami. Bagaikan bebek yang malang. Memang aneh, mengapa Lami melakukan hal itu padanya? Itu karena Lami tahu kalau apa yang terlihat di depannya sekarang adalah kebohongan. Sepupunya itu mengatakannya agar terlihat hebat di depan orang lain. Padahal dia hanya bersandiwara.
Memalukan!” ucap seorang teman di ruangan itu. “Aku rasa itu karma karena sudah membohongi begitu banyak orang dengan senyumannya sehingga teman bahkan saudaranya sendiri begitu membencinya,” ucap seorang teman yang lainnya.
Setelah menampar Dipo dengan sungguh-sungguh, Lami pun segera meninggalkan kelas dan segera pergi ke kamar mandi. Wajahnya makin memerah. Bagaikan cabai yang baru matang, merah berkobar juga seperti api membara. Alisnya bertemu. Matanya melotot, keluar begitu lebarnya. Serasa menakutkan pada situasi ini. Tiba-tiba, “Dasar Orang-orang berwajah seribu!” teriak Lami mengisi ruangan yang begitu sunyi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil RED VELVET

RED VELVET “K-GIRLGRUP VISUAL POINT” 1.       Asal Usul Red Velvet terdiri dari 5 anggota didalamnya, dan masih masing mempunyai...