Berwajah Seribu
Karya: Febriyani
Lami anak
yang berbola mata hitam itu selalu terlihat bahagia setiap harinya. Ia memiliki
kepribadian ganda yang membuat semua orang dari kalangan apapun sangat nyaman
bila berteman dengannya. Ia
polos tetapi bila ia
marah siap-siap saja dunia ini terpontang-panting dengan kekuatan puting
beliungnya beserta omongannya yang begitu mengerikan. Ini bukan karena bicaranya
yang keras melainkan bahasanya, “Can you stop your mouth? Shut up! How dare you!” Itulah beberapa kalimat yang sering ia ucapkan sambil memukul
tangannya ke salah satu benda yang ada di sekitarnya. Kalimat itu mungkin sudah
tak asing lagi, apalagi di
zaman yang serba modern ini. Tetapi
siapa yang dapat mengira kalau hanya ini yang terdengar, “Can.. your mouth? ..up! How dare you!” seperti
penutur aslinya begitu cepat, ketat dan menggelegar.
Pagi itu, di
bawah pohon yang rindang gadis
manis itu duduk begitu ceria memandangi bukunya beserta alunan lagu dari negeri
ginseng yang selalu menemaninya. Apalagi
kalau bukan musik korea yang sedang booming
dikalangan remaja Indonesia itu. Lami salah
satunya, ia sangat menyukai musik korea khusunya SNSD.
Siapa yang tak mengenal SNSD?
Hampir semua orang di negeri ini mengenalnya, jika mereka tak mengenal mungkin
karena mereka tak suka atau mungkin memang
beberapa penggemarnya saja yang
sengaja melebih-lebihkan.
Angin berhembus
kencang, dedaunan
pun berjatuhan. Udara yang begitu dingin membekukan segala ruangan.
Hingga halilintar pun menyambar. Awan hitam mulai berdatangan. Rintik-rintik
hujan pun mulai membasahi negeri ini bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata
Lami hingga membasahi buku yang sedang di genggamnya. Entah mengapa gadis seceria itu terlihat murung dalam sekejap.
Apa yang sedang terjadi? Apakah ada yang salah dengan hari itu?
“Maaf saudari Lami yang terhormat, tolong jangan mengganggu kehidupan saya. Sepertinya anda senang sekali melihat saya tidak berhubungan dengan
orang itu lagi. Saudara sialan!”
kutipan kicauan seseorang di sebuah social media. Kalimat itu yang
tertera dibukunya sekarang. Siapakah orang itu? Seberapa pentingnya orang itu
hingga membuat gadis manis itu begitu mudah menodai senyuman manisnya dengan
sebuah tetesan air
mata? Orang itu adalah sepupunya.
Sebuah kesalah
pahaman sedang terjadi pada hari ini dan seterusnya. Tiada penjelasan apapun yang bisa diutarakan. Ini semua hanyalah sebuah kisah kesalahpahaman. “Apa
salahku tuhan sehingga semua orang begitu? Aku
sudah berbuat baik tetapi semuanya terasa sia-sia.
Aku berbuat jahat malah semuanya jadi berantakan. Mengapa ini terjadi? Salahkah aku
membela sahabatku yang benar?” ia bergumam
dalam tangisannya.
Lami
memang termasuk tipe anak yang mencintai sebuah persahabatan. Ia akan selalu
membela, menjaga dan menyayangi jika sahabatnya itu memang melakukan hal yang
benar walaupun nyawa taruhannya.
Fani adalah salah satu
teman yang sangat ia cintai. Dan hal ini pula lah yang membuat ia harus berselisih
paham dengan sepupunya itu.
Fani
pun menenangkan Lami. Ia hari ini begitu banyak mengeluarkan celotehannya yang
membuat Lami terlihat senang. “Tapi tak sepantasnya ia memperlakukan kamu
seperti budak, jangan mentang-mentang kamu mencintainya seenaknya saja ia
membuat kamu selalu mengalah,”
ucap Lami. Fani pun mulai meneteskan
air matanya dan segera memeluk Lami
dengan erat. Lami
berusaha untuk tegar, “Ini semua pasti gara-gara nenek lampir
yang sok kecakepan itu. Kamu
memangnya tak letih apa diserang terus
menerus dengan bocah ingusan itu?”
Beberapa teman dekat Lami pun banyak yang
mengirimkan pesan di akun social media-nya, Pami menulis “Sudahlah, toh ia juga
akan segera sadar.”
“Yang
sabar, anggap saja semua ini tak ada,”
“Jangan begitu dia kan saudara kamu, Lami. kamu harus berpikiran positif,”
Beberapa
orang ikut berkomentar.
Sebulan pun telah berlalu, kini
saatnya umat islam merayakan hari kemenangannya yaitu merayakan Hari Raya
Idul Fitri.
Semuanya saling bermaaf-maafan. Di rumah yang cukup besar, seluruh
keluarga Lami
beserta sanak saudaranya berkumpul berbagi cerita, tetapi Lami malah asyik dengan PSP nya. Mungkin karena suasana hatinya yang
sedang tak karuan.
Ketika semuanya telah bersalaman
dengannya, tiba-tiba saja orang yang memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya
dengan seragam kokoh yang masih baru menghampirinya dan memberikan tangannya
untuk bersalaman sambil berkata,
“Maaf lahir dan batin, Lami.”
Siapa orang itu? Lami pun tidak yakin
dengan hal ini! “Dipo?
Dipokah ini? Impossible. Setelah ia
menjelek-jelekkan ku di social media lalu ia meminta maaf begitu saja? Hebat! Lalu apa yang
harus aku lakukan?” gumamnya dalam hati. Dengan berat hati Lami pun membalas salamannya itu.
Hari pun terus berlanjut, Lami selalu terlihat murung ketika
bertemu dengan sepupunya
itu.
Walaupun Dipo selalu
memberikan sapaan kepada Lami
tetapi tetap saja ia malas untuk membalas sapaan itu terkadang ia hanya
menjawab dengan senyuman atau menjawab “Iya,” dengan nada lirih. Itulah arti dari
sebuah kepercayaan yang telah hilang. Seketika lenyap dan tak ada satupun yang dapat
mengembalikannya.
Keesokan harinya ketika Lami berangkat
sekolah, ia bertemu dengan sepupunya itu dan Lami pun sudah bersiap untuk menyapanya
karena kali ini Lami
pun
sadar bahwa tak ada gunanya
memendam amarah. Tetapi semuanya
tak sesuai harapan. Ia pun mengurungkan niat untuk menyapa Dipo. Ketika Dipo melihat Lami, tiba-tiba
saja Dipo sengaja untuk berbalik arah.
“Apa
maksudnya? Apa mungkin ia berpikir
bahwa aku akan menumpang? Sungguh
kelewatan!” gumam
Lami. Raut wajah Lami berubah seketika dan memancarkan senyum
lirih yang begitu menakutkan.
“Manusia
sombong, tak tahu aturan. Mengapa
dia bisa menjadi saudaraku?” gumam Lami sambil menggertakkan giginya serta
menyiapkan kepalan pada tangannya.
Beberapa hari kemudian, “OMG! Everybody help me, please. Ayo dong leraikan mereka,” ucap guru Bahasa Inggris yang paling populer di
sekolahnya itu. Lami
pun segera keluar melihat keributan itu, dan terdiam ketika melihat saudaranya itu sedang berkelahi
dengan seseorang yang masih temannya juga, Alvi namanya. Seketika melihat itu Lami pun tak tahu
harus berbuat apa.
Walaupun
ia sedang dalam suasana membenci, akan tetapi perasaan khawatir terus
membayang di pikirannya.
Apalagi setelah mendengar percakapan beberapa orang yang membicarakan sepupunya
itu saat perjalanan pulang kerumah. Ia mendengar bahwa sepupunya akan berkelahi
kembali di suatu tempat. Perasaan takut, gelisah menjelma di pikirannya sekarang.
Siang pun telah berganti malam,
bintang-bintang di langit bersinar terang. Waktunya istirahat bagi Lami. Keesokkan harinya, di
sekolah beberapa orang
berkumpul di depan kantor ruang guru. Salah satu dari mereka merupakan teman
dari Dipo. Lami pun merasa
yakin ada sesuatu yang tidak beres. Dan Lami pun mendengar salah satu pembicaraan
dari orang-orang itu,
“Kok semuanya jadi tahu
masalah kemarin?”
Satupun
tak ada yang menjawab hingga akhirnya seseorang berbadan tegap, berkulit
cokelat berkata,
“Ngadu
kali! Mungkin ngadu.”
Aku
pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, “Apa maksudnya?
Bukankah orang itu sahabat dekatnya Dipo?”
Lami
bersama teman-temannya
pun
segera pergi ke rumah Dipo.
Sesampainya dirumah Dipo,
itu tak seperti apa
yang dipikirkan. Dipo baik-baik saja,
hanya ada luka-luka dibagian telapak kakinya dan sedikit garis luka di sikunya
serta terkadang ia sering
menjerit kesakitan
sambil memegang perutnya. Ingin sekali rasanya Lami memberi tahu tentang hal yang
dibicarakan sahabat dekatnya Dipo
itu, sebut saja Putra
namanya. Tetapi ia
mengurungkan niatnya itu karena takut menimbulkan kesan adu domba.
Keesokan harinya, “Ra, kita lihat Dipo yuk. Dia kan
lagi sakit setelah pertengkaran hebat itu,” sahut Odi. “Males ah,” kata putra. “Kok gitu? Kan teman kita,” bales orang yang
lainnya. “Kan temen lu! Bukan
temen gue kan? Ngapain coba dilihat nanti kalau meninggal juga bakalan
ditengokin juga kok. Yekan?” tegas Putra.
“Apa yang ia katakan? Ia berdoa
agar sepupuku itu mati?
Yang benar saja!” gumam Lami dalam hati. Lami pun memandangi orang-orang
yang ada disekitarnya. Beberapa temannya itu ada yang menggeleng-gelengkan kepala
setelah mendengar ucapan tak pantas itu. Setelah mendengarkan itu Lami pun langsung berpura-pura tidur
dan tak mendengarnya.
Beberapa
menit kemudian, mukanya Lami pun tiba-tiba memerah, ia mengepalkan tangannya. Saat
itu, ia terlihat seperti lucifer. Sangat menakutkan. Tak lama kemudian,
tepat di depan orang itu, Putra, Lami segera melayangkan tangannya. Tetapi seseorang
meng-hentikannya. Orang itu tak lain tak bukan adalah Dipo, sepupunya Lami.
“Jika
kamu melakukan itu, tak ada bedanya kau dengannya,” kata Dipo dengan tegas.
Lami pun makin memanas saat melihat Dipo. Walaupun ia bertindak sejauh itu
karenanya tapi kemarahan Lami pada dipo tak tertahankan. “Jangan sok baik! Kau
penipu!” kata Lami. Akhirnya Lami pun malah mengarahkan layangan tangannya itu
ke arah Dipo. “Ini untuk wajah seribumu itu!”
Dipo
benar-benar terlihat bodoh saat diperlakukan seperti itu oleh Lami. Bagaikan
bebek yang malang. Memang aneh, mengapa Lami melakukan hal itu padanya? Itu
karena Lami tahu kalau apa yang terlihat di depannya sekarang adalah
kebohongan. Sepupunya itu mengatakannya agar terlihat hebat di depan orang lain.
Padahal dia hanya bersandiwara.
“Memalukan!” ucap seorang teman di ruangan itu. “Aku rasa itu karma
karena sudah membohongi begitu banyak orang dengan senyumannya sehingga teman
bahkan saudaranya sendiri begitu membencinya,” ucap seorang teman yang lainnya.
Setelah
menampar Dipo dengan sungguh-sungguh, Lami pun segera meninggalkan kelas dan
segera pergi ke kamar mandi. Wajahnya makin memerah. Bagaikan cabai yang baru
matang, merah berkobar juga seperti api membara. Alisnya bertemu. Matanya
melotot, keluar begitu lebarnya. Serasa menakutkan pada situasi ini. Tiba-tiba,
“Dasar Orang-orang berwajah seribu!” teriak Lami mengisi ruangan yang begitu
sunyi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar